Kucing Di Jaman Mesir Kuno
Kucing sudah menjadi sisi penting kehidupan manusia semenjak beberapa ribu tahun kemarin. Di Mesir Kuno, kucing dipandang hewan suci yang menyimbolkan kesuburan, pelindungan, dan peruntungan. Banyak patung kucing diketemukan di pusara beberapa bangsawan, bahkan juga dewi Bastet yang disembah warga Mesir dilukiskan kepala kucing. Karena dipandang keramat, kucing di jaman itu diproteksi hukum, dan siapa saja sakiti kucing dapat dijatuhi hukuman berat.
Peranan Kucing Di Era Tengah
Saat peradaban berubah ke Eropa, jalinan manusia dengan kucing sebelumnya sempat alami pasang kering. Di Era Tengah, beberapa warga menyangkutkan kucing hitam dengan pengetahuan sichir dan nasib jelek. Mengakibatkan, populasi kucing menyusut mencolok di sejumlah daerah. Tragisnya, ini malah jadi parah pandemi tikus yang bawa penyakit pes di Eropa. Dari sana, manusia kembali sadar jika kucing punyai peranan penting sebagai pengontrol hama.
Kucing Di Asia Dan Nusantara
Di Asia, terutama Jepang, kucing dipandang pembawa peruntungan. Lambang Maneki-neko atau kucing yang mengangkat tangan dipercayai dapat datangkan rejeki dan kerap dipampang di toko. Di Indonesia sendiri, kucing daerah sudah sejak lama menjadi rekan hidup warga. Kucing kerap jadi penjaga rumah dari tikus dan rekan bermain beberapa anak. Bahkan juga ada dogma Jawa yang menyebutkan jika kucing piaraan lenyap atau mati, pemiliknya akan merasa kehilangan seperti kehilangan bagian keluarga.
Zaman Kekinian: Dari Penjaga Gudang Ke Rekan Hidup
Saat ini, peranan kucing sudah jauh berkembang. Tidak lagi sekedar hanya penghilang tikus, kucing sudah menjadi sisi keluarga. Trend adopsi kucing makin bertambah, baik kucing ras atau kucing daerah. Banyak komune pencinta kucing ada di beberapa wilayah, menunjukkan jika hewan ini betul-betul disayangi. Bahkan juga, kedatangan kucing kerap disangkutkan therapy emosional, karena suara dengkurannya bisa dibuktikan dapat memberikan dampak menentramkan untuk manusia.